#Teori-Teori Kepuasan Kerja#
1.Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.
2.Teori Keadilan (Equity Theory)
Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain.
3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators
#Determinan Sikap Kerja#
Sikap kerja dapat dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik, pekerjaan akan berjalan lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan. Tetapi, bukan berarti adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya sikap kerja, melainkan ada masalah lain lagi dalam hubungan antara karyawan yang akibatnya sikap kerjanya diabaikan. Sikap kerja mempunyai sisi mental yang mempengaruhi individu dalam memberikan reaksi terhadap stimulus mengenai dirinya diperoleh dari pengalaman dapat merespon stimulus tidaklah sama. Ada yang merespon secara positif dan ada yang merespon secara negative. Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan memiliki sikap kerja yang positif.
#Pengukuran Sikap Kerja#
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya, Sebagai contoh, karyawan yang sudah lama bekerja memiliki kecenderungan lebih puas dibandingkan dengan karyawan yang belum lama bekerja (Doering et al., 1983) Faktor eksentrinsik menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain, sistem penggajian dan sebagainya.
Sumber :
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.
Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Senin, 04 Januari 2016
Psikologi Manejem (minggu 11)
#Job Enrichment#
Merupakan upaya untuk memotivasi karyawan dengan memberi mereka kesempatan untuk menggunakan berbagai kemampuan mereka. Ini adalah ide yangdikembangkan oleh psikolog Amerika. Job enrichment adalah memberikan tugas dan tanggung jawab lebih besar pada karyawan dan menambah pekerjaan dalam hal kualitas, atau kompleksitasnya. Misalnya, seorang teknisi yang biasanya menangani mesin, kemudian ditugaskan untuk menangani mesin baru yang lebih kompleks.
Job enrichment adalah teknik yang secara perilaku berusaha membangun motivator psikologis sebagaimana digambarkan dalam two-factor theory Herxberg.
Khususnya program pengayaan pekerjaan berusaha untuk memberikan pekerja otoritas lebih dalam perencanaan kerja dan mengontrol kecapatan dan prosedur yang digunakan dalam melakukan pekerjaan. Contoh yang dilakukan adalah menggunakan test group dan control group. Test group diberikan kepercayaan menandatangani dengan menggunakan namanya kepada surat-surat yang mereka siapkan, mendorong mereka menjadi tenaga ahli dalam masalah-masalah yang mereka hadapi, menjadikan mereka akuntabel terhadap kualitas pekerjaan mereka. Setelah enam bulan, kualitas test group, sikap, produktivitas naik, keterlambatan, absent, dan biaya kerja menurun. Di lain pihak, kinerja kontrol group tetap sama. Tetapi, job enrichment bukan tanpa resiko, mereka yang melakukannya tanpa determinasi yang kuat untuk melakuakn dengan benar akan gagal. Untuk itu diperlukan juga untuk mempertimbangkan dimensi-dimensi pekerjaan inti.
#Langkah-Langkah dalam Redesign Pekerjaan Untuk Job Enrichment#
A.Menggabungkan beberapa pekerjaan menjadi satu. a.Menjadi lebih besar b.Lebih bervariasi c.Kecakapan lebih luas
B.Memberikan modul kerja untuk setiap pekerja.
C.Memberikan kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab. a.Kesempatan mengatur prosedur kerja sendiri
D.Memberikan kesempatan pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung. a.Orang – orang yang berhubungan dengan pelaksanaan kerjanya.
E.Menciptakan sarana – sarana umpan balik. a.Pekerja dapat memonitor koreksi diri.
#Pertimbangan-Pertimbangan Dalam Job Enrichment#
A.Jika pekerjaan terspesialisir dan sederhana dirancang kembali untuk memotivasi secara intrinsik pada pekerja, maka kualitas pelaksanaan kerja pekerja akan meningkat.
B.Absensi – absensi dan perpindahan kerja akan berkurang.
C.Dimensi inti yang berkaitan dengan motivasi intrinsik & lapangan kerja ( Hackman dan Oldham ), yaitu:
a.Keragaman ketrampilan (skill variety)
Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan. Misalnya, seorang salesman diminta untuk memikirkan dan menggunakan cara menjual yang berbeda, display (etalase) yang berbeda, cara yang lebih baik untuk melakukan pencatatan penjualan.
b.Jati diri tugas (task identity)
Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang. Tugas yang dirasakan sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas. Misalnya, seorang salesman diminta untuk membuat catatan tentang penjualan dan konsumen, kemudian mempunyai dan mengatur display sendiri.
c.Tugas yang penting (task significance)
Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja. Misalnya, sebuah perusahaan alat-alat rumah tangga ingin mengeluarkan produk panci baru. Para karyawan diberikan tugas untuk mencari kriteria seperti apa panci yang sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu masa kini. (tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi karyawan karena hasil kerjanya nanti secara langsung akan memberi manfaat kepada pelanggan)
d.Otonomi
Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja. Misalnya, seorang manager mempercayai salah satu karyawan untuk memperebutkan tender dari klien. Karyawan tersebut menggunakan ide dan caranya sendiri untuk menarik perhatian klien . Karyawan diberi kebebasan untuk mengatur sendiri waktu kerja dan waktu istirahat.
e.Umpan balik (feed back)
Memberikan informasi kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan sehingga para pekerja dapat segera memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan. Misalnya, dalam menjual produk salesman didorong untuk mencari sendiri informasi, baik dari atasan maupun dari bagian‑bagian lain, mengenai segala hal yang berkaitan dengan jabatannya serta meminta pendapat konsumen tentang barang‑barang yang dijual, pelayanan, dll.
Jadi kondisi psikologis kritis karyawan yang muncul karena adanya dimensi utama dalam tugas akan mempengaruhi hasil kerja karyawan yang telah termotivasi secara internal. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam job enrichment tergantung oleh kekuatan kayawan untuk berkembang dan berpikir positif.
Sumber :
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.
Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Merupakan upaya untuk memotivasi karyawan dengan memberi mereka kesempatan untuk menggunakan berbagai kemampuan mereka. Ini adalah ide yangdikembangkan oleh psikolog Amerika. Job enrichment adalah memberikan tugas dan tanggung jawab lebih besar pada karyawan dan menambah pekerjaan dalam hal kualitas, atau kompleksitasnya. Misalnya, seorang teknisi yang biasanya menangani mesin, kemudian ditugaskan untuk menangani mesin baru yang lebih kompleks.
Job enrichment adalah teknik yang secara perilaku berusaha membangun motivator psikologis sebagaimana digambarkan dalam two-factor theory Herxberg.
Khususnya program pengayaan pekerjaan berusaha untuk memberikan pekerja otoritas lebih dalam perencanaan kerja dan mengontrol kecapatan dan prosedur yang digunakan dalam melakukan pekerjaan. Contoh yang dilakukan adalah menggunakan test group dan control group. Test group diberikan kepercayaan menandatangani dengan menggunakan namanya kepada surat-surat yang mereka siapkan, mendorong mereka menjadi tenaga ahli dalam masalah-masalah yang mereka hadapi, menjadikan mereka akuntabel terhadap kualitas pekerjaan mereka. Setelah enam bulan, kualitas test group, sikap, produktivitas naik, keterlambatan, absent, dan biaya kerja menurun. Di lain pihak, kinerja kontrol group tetap sama. Tetapi, job enrichment bukan tanpa resiko, mereka yang melakukannya tanpa determinasi yang kuat untuk melakuakn dengan benar akan gagal. Untuk itu diperlukan juga untuk mempertimbangkan dimensi-dimensi pekerjaan inti.
#Langkah-Langkah dalam Redesign Pekerjaan Untuk Job Enrichment#
A.Menggabungkan beberapa pekerjaan menjadi satu. a.Menjadi lebih besar b.Lebih bervariasi c.Kecakapan lebih luas
B.Memberikan modul kerja untuk setiap pekerja.
C.Memberikan kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab. a.Kesempatan mengatur prosedur kerja sendiri
D.Memberikan kesempatan pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung. a.Orang – orang yang berhubungan dengan pelaksanaan kerjanya.
E.Menciptakan sarana – sarana umpan balik. a.Pekerja dapat memonitor koreksi diri.
#Pertimbangan-Pertimbangan Dalam Job Enrichment#
A.Jika pekerjaan terspesialisir dan sederhana dirancang kembali untuk memotivasi secara intrinsik pada pekerja, maka kualitas pelaksanaan kerja pekerja akan meningkat.
B.Absensi – absensi dan perpindahan kerja akan berkurang.
C.Dimensi inti yang berkaitan dengan motivasi intrinsik & lapangan kerja ( Hackman dan Oldham ), yaitu:
a.Keragaman ketrampilan (skill variety)
Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan. Misalnya, seorang salesman diminta untuk memikirkan dan menggunakan cara menjual yang berbeda, display (etalase) yang berbeda, cara yang lebih baik untuk melakukan pencatatan penjualan.
b.Jati diri tugas (task identity)
Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang. Tugas yang dirasakan sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas. Misalnya, seorang salesman diminta untuk membuat catatan tentang penjualan dan konsumen, kemudian mempunyai dan mengatur display sendiri.
c.Tugas yang penting (task significance)
Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja. Misalnya, sebuah perusahaan alat-alat rumah tangga ingin mengeluarkan produk panci baru. Para karyawan diberikan tugas untuk mencari kriteria seperti apa panci yang sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu masa kini. (tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi karyawan karena hasil kerjanya nanti secara langsung akan memberi manfaat kepada pelanggan)
d.Otonomi
Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja. Misalnya, seorang manager mempercayai salah satu karyawan untuk memperebutkan tender dari klien. Karyawan tersebut menggunakan ide dan caranya sendiri untuk menarik perhatian klien . Karyawan diberi kebebasan untuk mengatur sendiri waktu kerja dan waktu istirahat.
e.Umpan balik (feed back)
Memberikan informasi kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan sehingga para pekerja dapat segera memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan. Misalnya, dalam menjual produk salesman didorong untuk mencari sendiri informasi, baik dari atasan maupun dari bagian‑bagian lain, mengenai segala hal yang berkaitan dengan jabatannya serta meminta pendapat konsumen tentang barang‑barang yang dijual, pelayanan, dll.
Jadi kondisi psikologis kritis karyawan yang muncul karena adanya dimensi utama dalam tugas akan mempengaruhi hasil kerja karyawan yang telah termotivasi secara internal. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam job enrichment tergantung oleh kekuatan kayawan untuk berkembang dan berpikir positif.
Sumber :
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.
Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Sabtu, 02 Januari 2016
Tugas psikologi menejemen (petemuan 10)
Teori Hierarki Kebutuhan Maslow #
Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
1. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization)
Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
#Kebutuhan Yang Relevan Dengan Perilaku Dalam Organisasi#
Tujuan utama dalam pengembangan kepemimpinan adalah membantu organisasi untuk mencapai tujuan strategisnya. Oleh karena itu, dalam konteks pengembangan kepemimpinan harus selalu terhubung dengan kebutuhan organisasi dan mendukung pencapaiannya. Kedua, pengembangan kepemimpinan haruslah memfasilitasi kondisi saat ini dan tantangan internal dan eksternal di masa depan. Untuk menganalisis kebutuhan organisasi dapat dengan melakukan proses analisis pada dokumen strategis organisasi yang terdokumentasi seperti rencana strategis, visi, misi, value, dan lain-lain. Hal ini dapat memberikan gambaran sekilas tentang kebutuhan pengembangan di tingkat organisasi maupun tingkat individu. Selain itu, dapat ketahui tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Apa saja tantangan mungkin dialami perusahan dapat dirinci sebagai berikut: Tantangan Strategis·Kejelasan visi·Dukungan dari direksi, shareholders, dan pegawai·Masalah dalam implementasi·Kengganan untuk melakukan perubahan Tantangan Internal·Merger dan akuisisi·Reorganisasi·Perekrutan dan mempertahankan karyawan·Teknologi Informasi·Struktur·Globalisasi Tantangan Eksternal·Kondisi ekonomi·Ancaman kompetitif·Harapan dari pelanggan dan mitra kerja;·Harapan dari Shareholder·Isu ketersediaan·Keunggulan dari teknologi·Isu-isu seputar regulasi Selanjutnya setelah menganalisis dokumen strategis, tahap kedua adalah dengan dengan melakukan proses wawancara mendalam kepada senior manajemen serta pimpinan puncak yang ada dalam organisasi sehingga diketahui apa saja yang menajdi poin kritis dalam pengembangan kepemimpina. Selain itu, metode yang dapat dipakai adalah melakukan survei organisasi dan melakukan focus group discussion.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Solihin. 2008. Pengantar Manajemen. Jakarta : Erlangga
Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
1. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Bagi masyarakat sejahtera jenis-jenis kebutuhan ini umumnya telah terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar ini terpuaskan, dengan segera kebutuhan-kebutuhan lain (yang lebih tinggi tingkatnya) akan muncul dan mendominasi perilaku manusia.Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Segera setelah kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, dan belum pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat, dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self Actualization)
Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
#Kebutuhan Yang Relevan Dengan Perilaku Dalam Organisasi#
Tujuan utama dalam pengembangan kepemimpinan adalah membantu organisasi untuk mencapai tujuan strategisnya. Oleh karena itu, dalam konteks pengembangan kepemimpinan harus selalu terhubung dengan kebutuhan organisasi dan mendukung pencapaiannya. Kedua, pengembangan kepemimpinan haruslah memfasilitasi kondisi saat ini dan tantangan internal dan eksternal di masa depan. Untuk menganalisis kebutuhan organisasi dapat dengan melakukan proses analisis pada dokumen strategis organisasi yang terdokumentasi seperti rencana strategis, visi, misi, value, dan lain-lain. Hal ini dapat memberikan gambaran sekilas tentang kebutuhan pengembangan di tingkat organisasi maupun tingkat individu. Selain itu, dapat ketahui tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Apa saja tantangan mungkin dialami perusahan dapat dirinci sebagai berikut: Tantangan Strategis·Kejelasan visi·Dukungan dari direksi, shareholders, dan pegawai·Masalah dalam implementasi·Kengganan untuk melakukan perubahan Tantangan Internal·Merger dan akuisisi·Reorganisasi·Perekrutan dan mempertahankan karyawan·Teknologi Informasi·Struktur·Globalisasi Tantangan Eksternal·Kondisi ekonomi·Ancaman kompetitif·Harapan dari pelanggan dan mitra kerja;·Harapan dari Shareholder·Isu ketersediaan·Keunggulan dari teknologi·Isu-isu seputar regulasi Selanjutnya setelah menganalisis dokumen strategis, tahap kedua adalah dengan dengan melakukan proses wawancara mendalam kepada senior manajemen serta pimpinan puncak yang ada dalam organisasi sehingga diketahui apa saja yang menajdi poin kritis dalam pengembangan kepemimpina. Selain itu, metode yang dapat dipakai adalah melakukan survei organisasi dan melakukan focus group discussion.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Solihin. 2008. Pengantar Manajemen. Jakarta : Erlangga
Sabtu, 28 November 2015
Psikologi menejemen(pertemuan 9)
Teori Harapan dan implikasi praktisnya
Teori pengharapan berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu , dan pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu tersebut.
Dalam istilah yang lebih praktis, teori pengharapan, mengatakan seseorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia menyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik (Victor Vroom dalam Robbin 2003:229) Karena ego manusia yang selalu menginginkan hasil yang baik baik saja, daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang terkandung dari harapan yang akan diperolehnya pada masa depan (Hasibuan 2001:165). Apabila harapan dapat menjadi kenyataan, karyawan akan cenderung meningkatkan gairah kerjanya. Sebaliknya jika harapan tidak tercapai, karyawan akan menjdadi malas.
Teori ini dikemukakan oleh Victor Vroom yang mendasarkan teorinya pada tiga konsep penting, yaitu:
1.Harapan (expentancy)
2.Nilai (Valence)
3.Pertautan (Inatrumentality)
*Harapan (expentancy) adalah suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena prilaku .Harapan merupakan propabilitas yang memiliki nilai berkisar nol yang berati tidak ada kemungkinan hingga satu yang berarti kepastian
*Nilai (Valence) adalah akibat dari prilaku tertentu mempunyai nilai atau martabat tertentu (daya atau nilai motivasi) bagi setiap individu tertentu
*Pertautan (Inatrumentality) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkat pertama akan dihubungkan dengn hasil tingkat ke dua.Vroom mengemukakan bahwa pertautan dapat mempunyai nilai yang berkisar antara –1 yang menunjukan persepsi bahwa tercapinya tingkat ke dua adalah pasti tanpa hasis tingkat pertama dan tidak mungkin timbul dengan tercapainya hasil tingkat pertama dan positip satu +1 yang menunjukan bahwa hasil tingkat pertama perlu dan sudah cukup untuk menimbulkan hasil tingkat ke dua.#Teori tujuan dan implikasi praktisnya#
Locke menguslkan model kognitif yang dinamakan teori tujuan, yang mencoba menjelaskan hubungan hubungan antara niat/intentions dengan perilaku.Aturan dasarnya ialah penetapan dari tujuan-tujuan secara sadar. Hasil penelitian Edwin Locke dan rekan-rekan (1968), menunjukkan efek positif dari teori tujuan pada prilaku kerja.
Penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme:
a.Tujuan adalah yang mengarahkan perhatianb.Tujuan adalah yang mengatur upayac.Tujuan adalah meningkatkan persistensid.Tujuan adalah menunjang strategi untuk dan rencana kegiatan
DAFTAR PUSTAKASunyoto Munandar, Ashar.(2001).Psikologi Industri dan Organisasi.Jakarta: Universitas Indonesia.
Jumat, 20 November 2015
Psikologi manajemen(peretemuan ke 8)
1. PENGERTIAN MOTIVASI
Menurut Liang Gie, motivasi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh manager dalam memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan pada orang lain, dalam hal ini karyawannya untuk mengambil tindakan-tindakan tertentu.
Menurut Siagian, motivasi adalah keseluruhan proses pemberian motivasi bekerja kepada bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.
Menurut Stephen P. Robbin, motivasi adalah proses yang berperan pada intensitas, arah, dan lamanya berlangsung upaya individu kea rah pencapaian tujuan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan motivasi adalah suatu proses untuk mengarahkan atau mengendalikan dan menggerakkan seseorang untuk melakukan tindakan akan perilaku yang diinginkan berdasarkan sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Teori Drive-Reinforcement dan implikasi praktisnya
Teori ini didasarkan atas hubungan sebab dan akibat dari perilaku dengan pemberian konpensasi. Misalnya promosi seorang karyawan itu tergantung dari prestasi yang selalu dapat dipertahankan. Sifat ketergantungan tersebut bertautan dengan hubungan antara perilaku dan kejadian yang mengikuti perilaku tersebut. Teori pengukuhan ini terdiri dari dua jenis, yaitu :
1.Pengukuhan Positif (Positive Reinforcement), yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuh positif diterapkan secara bersyarat.
2.Pengukuhan Negatif (Negative Reinforcement), yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuhan negatif dihilangkan secara bersyarat.
Jadi prinsip pengukuhan selalu berhubungan dengan bertambahnya frekuensi dan tanggapan, apabila diikuti oleh stimulus yang bersyarat. Demikian juga prinsip hukuman (Punishment) selalu berhubungan dengan berkurangnya frekuensi tanggapan, apabila tanggapan (response) itu diikuti oleh rangsangan yang bersyarat. Contoh : pengukuhan yang relatif malar adalah mendapatkan pujian setelah seseorang memproduksi tiap-tiap unit atau setiap hari disambut dengan hangat oleh manajer.Teori ”drive” bisa diuraikan sebagai teori-teori dorongan tentang motivasi, perilaku didorong ke arah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau binatang. Contohnya., Freud ( 1940-1949 ) berdasarkan ide-idenya tentang kepribadian pada bawaan, dalam kelahiran, dorongan seksual dan agresif, atau drive (teorinya akan diterangkan secara lebih detail dalam bab kepribadian). Secara umum , teori-teori drive mengatakan hal-hal berikut : ketika suatu keadaan dorongan internal muncul, individu di dorong untuk mengaturnya dalam perilaku yang akan mengarah ke tujuan yang mengurangi intensitas keadaan yang mendorong. Pada manusia dapat mencapai tujuan yang memadai yang mengurangi keadaan dorongan apabila dapat menyenangkan dan memuaskan. Jadi motivasi dapat dikatakan terdiri dari:
- Pengertian Teori Drive
a.Suatu keadaan yang mendorong
b.Perilaku yang mengarah ke tujuan yang diilhami oleh keadaan terdorong
c.Pencapaian tujuan yang memadai
d.Pengurangan dan kepusaan subjektif dan kelegaan ke tingkat tujuan yang tercapai
Setelah keadaan itu, keadaan terdorong akan muncul lagi untuk mendorong perilaku ke arah tujuan yang sesuai. Pengulangan kejadian yang baru saja diuraikan seringkali disebut lingkaran korelasi.
Teori-teori Drive berbeda dalam sumber dari keadaan terdorong yang memaksa manusia atau binatang bertindak. Be berapa teori, termasuk teori Freud, dipahami oleh keadaan terdorong sejak belum lahir, atau instingtif. Tentang perilaku binatang, khususnya ahli ethologi telah mengusulkan suatu penjelasan suatu mekanisme dorongan sejak kelahiran (tinbergen, lorenz, dan leyhausen dalam morgan, dkk. 1986). Teori-teori drive yang lain telah mengembangkan peran belajar dalamkeaslian keadaan terdorong. Contohnya, dorongan yang di pelajari (learned drives), seperti mereka sebut, keaslian dalam latihan seseorang atau binatang atau pengalaman masa lalu dan yang berbeda dari satu individu ke individu yang lain. Karena penggunaan minuman keras sebelumnya, ketagihan heroin, contohnya mengembangkan suatu dorongan untuk mendapatkan hal tersebut, dan karena itu mendorong ke arah itu. Dan dalam realisasi motif sosial, orang telah belajar dorongan untuk kekuasaan, agresi atau prestasi. Keadaan terdorong yang dipelajari menjadi ciri abadi dari orag tertentu dan mendorong orang itu ke arah tujuan yang memadai, orang lain mungkin belajar motif sosial yang lain dan didorong ke arah tujuan yang berbedaTeori ini mempunyai dua aturan pokok : aturan pokok yang berhubungan dengan perolehan jawaban –jawaban yang benar dan aturan pokok lain yang berhubungan dengan penghilangan jawaban-jawaban yang salah. Pengukuran dapat terjadi positif (pemberian ganjaran untuk satu jawaban yang didinginkan ) atau negatif ( menghilangkan satu rangsang aversif jika jawaban yang didinginkan telah diberikan ), tetapi organisme harus membuat antara akasi atau tindakannya dengan sebab akibat.
- Teori Pengukuhan (Reinforcement Theory)
Siegel dan Lane (1982), mengutip Jablonke dan De Vries tentang bagaimana manajemen dapat meningkatakan motivasi tenaga kerja., yaitu dengan:
1. Menentukan apa jawaban yang diinginkan
2. Mengkomunikasikan dengan jelas perilaku ini kepada tenaga kerja.
3. Mengkomunikasikan dengan jelas ganjaran apa yang akan diterima.Tenaga kerja jika jawaban yang benar terjadi
4. Memberikan ganjaran hanya jika jika jawaban yang benar
dilaksanakan.
5. Memberikan ganjaran kepada jawaban yang diinginkan, yang terdekat dengan kejadiannya.
Menurut J.P. Chaplin motivasi adalah suatu variable perantara yang digunakan untuk menerangkan faktor-faktor dalam diri individu, yang dapat membangkitkan, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA :
Sunyoto Munandar, Ashar.(2001).Psikologi Industri dan Organisasi.Jakarta: Universitas Indonesia.
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra
Sabtu, 14 November 2015
Psikologi Menjemen ( Pertemuan 7)
Modern Choice Approach to Participation
1.Decicion tree for Leadership dari Vroom dan Yetton
Teori kepemimpinan model Vroom dan Yetton ini merupakan salah satu teori
kontingensi. Teori kepemimpinan Vroom dan Yetton disebut juga teori Normatif,
karena mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentana gaya kepemimpinan
yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu. Vroom danYetton memberikan
beberapa gaya kepemimpinan yang layak untuk setiap situasi.
Berikut ini saya akan memberikan subuah contoh pemimpin yang menggunakan
gaya atau model teori dari Vroom dan Yetton. Misalnya adalah suatu pemerintahan
di dalam masyarakat,dimana di dalam masyarakat ada ketua RT yang bertugas
mimimpin wilayah didaerah nya dan ada masyarakat sebagai anggota nya. Ketika
menemui suatu persolan atau permasalahan maka ketua RT akan mengumpulkan warga
nya yang berperan sebagai anggota untuk ikut berkumpul dan mencari pemecahan
masalah bersama-sama. Ketua RT akan menyampaikan permasalahan dan meminta saran
pemecahan kepada masyarrakatnya.Semua saran dari anggota di tampung dan
dievaluasi serta pemimpin dan para anggotanya bersama-sama mencari alternatif
pemecahan masalahnya. Semua alternative di evaluasi untuk mencapai tujuan
bersama dan untuk mencapai solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan.
Seorang ketua RT tidak mempengaruhi anggota masyarakat untuk mengikuti saran darinya.
Seorang ketua RT akan mengikuti saran alternatif pemecahan masalah yang menurut
para anggota nya adalah adalah alternatif yang paling baik. Seorang ketua RT
akan menerima saran pemecahan dan akan melaksanakan pemecahan yang di dukung
oleh seluruh anggota.
Menurut teori Vroom dan Yetton seorang ketua RT menggunakan gaya kepemimpinan G-II,dimana gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri :
Menurut teori Vroom dan Yetton seorang ketua RT menggunakan gaya kepemimpinan G-II,dimana gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri :
·
Pemimpin memberitahukan persoalan kepada bawahan
sebagai satu kelompok.bersama-sama mereka ,pemimpin menghasilkan dan menilai
berbagai alternativepemecahan masalah dan berusaha untuk mencapai suatu
kesetujuan atau konsensus mengenai satu pemecahan. Peran pemimimpin mirip
seorang ketua. Pemimpin tidak mencoba untuk mempengaruhi kelompok untuk
menerima pemecahan. Pemempin bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap
pemecahan yang didukung oleh seluruh anggota kelompok.
2.Contingency theory of Leadership dari Fiedler
Model ini menyatakan bahwa keefektifan suatu kelompok bergantung pada:
·
Hubungan dan interaksi pemimpin dan bawahannya
·
Sejauh mana pemimpin mengendalikan dan mempengaruhi
suatu situasi.
Dalam hal yang pertama dapat dinilai dengan kuisoner LPC (Least Prepered
Coworker)
• Jika skor LPC tinggi, maka pemimpin berorientasi pada hubungan
• Jika skor LPC rendah, maka pemimpin berorientasi pada tugas.
• Jika skor LPC tinggi, maka pemimpin berorientasi pada hubungan
• Jika skor LPC rendah, maka pemimpin berorientasi pada tugas.
Misalnya didalam lingkungan bermasyarakat ketua RT setiap minggunya
mengajak masyarakatnya untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan
sekitar. Dimana kerja bakti tersebut diadakan agar mempererat hubungan antara
ketua RT dengan warganya dan warga dengan sesama warga yang lain. Dalam kerja
bakti tersebut ketua Rt membimbing warganya untuk sama-sama bekerjasama dan
dari kegiatan tersebut dapat diperoleh suatu manfaat agar ketua RT dapat
mengenal warga lebih jauh dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap
sesama.Tujuan ketua RT bukan hanya untuk menjadikan kampungnya bersih,tetapi
lebih kepada mempererat hubungan interpersonal diantara mereka.
Dari sini dapat dilihat bahwa ketua RT tersebut memilik skor LPC yang
tinggi. Karena dia lebih berfokus pada hubungan dengan warganya.
3.Path Goal Theory
Model path-goal menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi
dasar:
·
Fungsi pertama; member kejelasan alur.
·
Fungsi kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil
(reward) bawahannya.
Misalnya didaerah Kalideres ada yang mengadakan arisan peket sembako,
dimana ketua arisan paket sembako setiap tiga bulan sekali mengadakan rapat
dengan para kordinator untuk meningkatkan kinerja kordinator. Didalam rapat
tersebut para kordinator memberikan saran untuk memperbaiki hasil dari isi
paket sembako tersebut, mengadakan hiburan setiap dua bulan sekali,dan ketua
arisannya juga berkonsultasi kepada mereka dalam pengelolahan keuangan dari
arisan tersebut.
Diatas merupakan contoh dari kepemimpinan partisipatif (participative leadership), dimana pemimpinnya berkonsultasi dengan bawahan dan mengambil saran-saran dan ide mereka. Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan.
Diatas merupakan contoh dari kepemimpinan partisipatif (participative leadership), dimana pemimpinnya berkonsultasi dengan bawahan dan mengambil saran-saran dan ide mereka. Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan.
Daftar pustaka:
Munandar,A.S.Psikologi
industri dan organisasi.Penerbit UIP
Wijono,Sutarto.(2010).Psikologi
industri dan organisasi.Jakarta:Penerbit Kencana
Robert,A.Baron,Donn
Byrne. Psikologi Sosial Jilid 2 Edisi Kesepuluh. Jakarta:Penerbit Erlangga
Danang
Sunyoto.Perilaku Konsumen.Yogyakarta:Penerbit Center Of Academic Publishing
Service
Sabtu, 07 November 2015
Psikologi Menejemen (Pertemuan 6)
Teori-teori leadership (definisi dan
teori-teori)
Definisi menurut ahli
1. William G. Scott (1962) Kepemimpinan
ialah proses mempengaruhi aktifitas yang diorganisir dalam suatu kelompok dalam
usahanya untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
2. F. A. Nigro (1965) Inti dari
kepemimpinan ialah mempengaruhi aktifitas orang lain.
3. F. I. Munson"The Management of
Man". Kepemimpinan sebagai kesanggupan atau kemampuan untuk mengatasi
orang-orang yang sedemikian rupa agar mencapai hasil yang sebesar-besarnya
dengan kemungkinan pergesekan yang sekecil-kecilnya dan sebesar mungkin
terjalinnya kerja sama.
4. Ordway Tead (1929) Kepemimpinan sebagai
penggabungan perangai yang membuat seseorang mungkin dapat mendorong beberapa
pihak lain untuk menyelesaikan pekerjaannya.
5. Hemhill dan Coon (1995) Kepemimpinan
merupakan sikap dari seorang individu yang memimpin berbagai kegiatan dari
suatu kelompok menuju suatu tujuan yang ingin dicapai bersama-sama.
6. Rauch dan Behling (1984) Kepemimpinan
merupakan suatu proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan suatu kelompok yang
diorganisasi menuju arah pencapaian sebuah tujuan.
7. Kartini Kartono (1994 : 48)
Kepemimpinan itu karakternya khas, spesifik, dibutuhkan pada satu situasi
tertentu. Sebab didalam sebuah kelompok yang melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu & memiliki sebuah tujuan serta berbagai macam peralatan yang
khusus. Pemimpin sebuah kelompok dengan ciri-ciri yang karakteristik adalah
fungsi dari situasi tertentu.
8. Tannenbaum, Weschler dan Massarik (1961)
Kepemimpinan ialah sebuah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan pada keadaan
tertentu, serta diarahkan lewat proses komunikasi, menuju arah pencapaian satu
tujuan tertentu atau lebih.
9. P. Pigors (1935) Kepemimpinan ialah
proses dorong mendorong lewat keberhasilan sebuah interaksi dari berbagai
perbedaan individu, mengontrol daya seseorang dalam mengejar tujuan bersama.
10. George R. Terry Kepemimpinan merupakan
suatu hubungan yang ada didalam diri seseorang atau pemimpin dan mempengaruhi
orang lain agar mau bekerja dengan sadar dalam hubungan tugas agar tercapainya
sebuah tujuan yang diinginkan.
Jadi, kepemimpinan adalah seseorang yang mampu untuk mendoktrin orang lain
dan sanggup untuk mengcover masalah orang lain serta memotivasi seseorang untuk
menyelesaikan pekerjaannya dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.
Teori X dan Y dari McGregor
Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh
Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer /
pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para
pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y
Teori ini meyakini bahwa self actualizing
adalah konsep yang lebih akurat untuk menerangkan motivasi manusia dan mencoba
mengintegrasikannya dengan organisasi.
McGregor : Ada dua asumsi dasar
alternatif, yaitu manusia dan pendekatan mereka terhadap pekerjaan. Asumsi
tersebut memunculkan teori X dan Y
Teori X : pandangan tradisional tentang
motivasi --> pekerjaan yang dibenci oleh karyawan yang harus diberi motivasi
dengan reward dan pujian.
Teori Y : pekerja atau orang sudah
memiliki motivasi untuk bekerja melakukan pekerjaan dengan baik.
Kesimpulan:
1. Yang dimaksud teori X adalah pegawai yang pada segi pesimistik,
manajer hanya merubah atau mengatur kondisi kerja dan menerapkan penggunaan
rewards & punishment untuk menimbulkan produktivitas karyawan.
2.Yang dimaksud Teori Y adalah pegawai
yang pada segi optimistik, manajer melakukan pemantauan humanistik kepada
pegawai, memberi tantangan kepada karyawan untuk berprestasi, memotivasi
pertumbuhan pribadi, memotivasi kinerja pegawai.
Gaya empat system manajemen oleh Rensis
Likert
Kepemimpinan merupakan suatu proses yang
saling berhubungan dimana seorang pemimpin harus memperhitungkan
harapan-harapan, nilai-nilai, dan keterampilan invidual dari mereka yang
terlibat dalam interaksi yang berlangsung (Likert, 1961, 1967)
· Sistem 1 (exploitive authoritative),
Artinya kewenangan yang bersifat
eksploitatif, atau kewenangan mutlak. Dalam system manajemen semacam ini para
pemimpin bersifat otokratis. Pemimpin sangat otokratis, mempunyai sedikit
kepercayaan kepada bawahan, suka mengekplotasi bawahan, bersikap paternalistik
memotivasi dengan memberi ketakutan dan hukuman-hukuman, diselang seling
pemberian penghargaan yang secara kebetulan (occasional reward), hanya mau
memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses
pengambilan keputusan di tingkat atas. Tipe kepemimpinan seperti ini hanya
mendasarkan azas kehendak atau kemauan sendiri dari para pemimpin.
· Sistem 2 (benevolent
authoritative/otokrasi yang baik hati),
Menjalankan dengan kebaikan hati.
Mempunyai kepercayaan yang berselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi
dengan hadiah-hadiah dan ketakutan serta hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya
komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan
memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan, bawahan merasa
tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya
dengan atasan.
· Sistem 3 (manajer konsultatif),
Dalam manajemen ini para pemimpin pada
hakikatnya tidak mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahannya dan
biasanya mencoba untuk mempergunakan ide dan pendapat-pendapat bawahannya
secara konstruktif (bersifat membangun). Mempunyai sedikit kepercayaan pada
bawahan, biasanya dalam perkara kalau ia memerlukan informasi, ide atau
pendapat bawahan; masih menginginkan melakukan pengendalian atas
keputusan-keputusan yang dibuatnya; mau melakukan motivasi dengan penghargaan
dan hukuman yang kebetulan; dan juga berkehendak melakukan partisipasi;
menetapkan dua pola hubungan komunikasi, iaitu ke atas dan ke bawah; membuat
keputusan dan kebijakan yang luas pada tingkat bawah; bawahan merasa sedikit
bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama
atasan.
· Sistem 4 (partisipative group/kelompok
partisipatif),
Dalam system 4 ini, para pemimpin
mempunyai kepercayaan sepenuhnya dalam semua hal kepada bawahannya, selalu
ingin mendapat ide dan pendapat-pendapat dari bawahannya dan mempergunakan
secara konstruktif terhadap mereka. Memberikan penghargaan yang bernilai
ekonomis berdasarkan atas partisipasi kelopok dan melibatkan dalam
bermacam-macam bidang. Melakukan banyak komunikasi baik ke bawah maupun ke
atas. Mendorong pengambilan keputusan melalui seluruh jaringan organisasi dan
disamping itu mendorong melakukan kegiatan diantara ereka dan dengan bawahannya
sebagai suatu kelompok.
Theory of Leadership Pattern Choice dari
Tannebaum dan Schmidt
Model Leadership Continuum
Teori ini datang dari Robert Tannenbaum
dan Warren H.Schmidt. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994)
menyatakan bahwa pimpinan mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu
dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis
sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan
perilaku demokratis.
Perilaku otokratis, secara umum bersifat
negatif, dimana pemegang kekuasaan atau wewenang berasal dari adanya pengaruh
pimpinan.
Perilaku demokratis, perilaku kepemimpinan
ini memegang kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan.
Menurut teori continuum ada tujuh
tingkatan hubungan pemimpin dengan bawahan:
a. Pemimpin membuat dan mengumumkan
keputusan terhadap bawahan (telling).
b. Pemimpin menjualkan dan menawarkan
keputusan terhadap bawahan (selling).
c. Pemimpin menyampaikan ide dan
mengundang pertanyaan.
d. Pemimpin memberiakn keputusan tentative
dan keputusan masih dapat diubah.
e. Pemimpin memberikan problem dan meminta
sarang pemecahannya kepada bawahan (consulting).
f. Pemimpin menentukan batasan-batasan dan
minta kelompok untuk membuat keputusan.
g. Pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi
dalam batas-batas yang ditentukan (joining).
DAFTAR PUSTAKA :
Purwanto, D. (2006). Komunikasi bisnis edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Purwanto, D. (2006). Komunikasi bisnis edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Fatah, Nanang. 2009.
Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyasa. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)